Jakarta Academics College: Pilihan untuk Pendidikan Internasional

Dalam era globalisasi dan persaingan akademik yang semakin ketat, persiapan matang menuju pendidikan tinggi internasional menjadi sebuah keharusan. Banyak siswa Indonesia memiliki ambisi untuk menempuh studi di luar negeri, namun seringkali menemui kendala terkait kurikulum, bahasa, dan perbedaan sistem pendidikan. Kurikulum nasional saja tidak selalu cukup untuk bisa bersaing secara global.

Jakarta Academics College


Jakarta Academics College (JA College), sebagai satu institusi junior college atau college internasional di Indonesia, menawarkan solusi bagi siswa-siswi yang ingin mendapatkan pendidikan dengan perspektif global tanpa harus langsung meninggalkan tanah air. Melalui program‐program seperti Foundation dan A Level, JA College mengisi kesenjangan antara sekolah menengah di Indonesia dan universitas‐terkemuka di luar negeri.
 

Apa Itu Jakarta Academics College?


JA College adalah institusi pendidikan yang berfokus pada jalur persiapan menuju universitas internasional. Menurut laman resmi, JA College mengusung pendekatan pendidikan yang lebih dari sekadar akademik: mereka menjanjikan lingkungan belajar yang mendukung dimana siswa dapat berkembang secara optimal.

Institusi ini menawarkan dua program utama: Programme Foundation dan A Level Programme. 

  1. Programme Foundation biasanya berlangsung kurang dari satu tahun (fast track) dan dirancang sebagai jalur cepat masuk universitas internasional.
  2. A Level Programme adalah jalur yang lebih akademik, cocok untuk siswa yang mengincar universitas di Inggris atau sistem pendidikan berbasis British Curriculum.
Lokasi kampus JA College juga strategis, yakni di Jakarta (Mega Kuningan) dan Bali (Denpasar), memudahkan akses bagi siswa dari berbagai wilayah. 

Keunggulan JA College dalam Pendidikan Internasional

 

Kurikulum dan Standar Internasional


Salah satu keunggulan utama JA College adalah penggunaan kurikulum yang diakui secara global, seperti A Level dan Foundation Programme yang berstandar internasional. 

Dengan kurikulum yang tepat, siswa dipersiapkan untuk masuk ke universitas luar negeri tanpa “kultur shock” akademik karena sistem dan metode pembelajarannya sudah mendekati standar global.
 

Lingkungan Belajar yang Mendukung


JA College menekankan kelas kecil (small class sizes) sehingga setiap siswa mendapatkan perhatian personal dari pengajar. Lingkungan belajar yang suportif, pengajar berpengalaman dalam pendidikan internasional, serta suasana multikultural membuat siswa terbiasa berinteraksi secara global sejak dini. 

Jalur Terarah ke Universitas Internasional


Program yang ditawarkan JA College memiliki konektivitas dengan banyak universitas di luar negeri. Hal ini sangat penting bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas top dunia. Dengan program persiapan, siswa memperoleh bimbingan mulai dari persiapan akademik, bahasa, hingga aplikasi universitas.
 

Pengembangan Soft Skills dan Bahasa


Tidak hanya fokus pada aspek akademik, JA College juga memberikan perhatian pada pengembangan keterampilan non-akademik (soft skills) seperti komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, serta kemampuan bahasa Inggris akademik. Keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk sukses di kampus dan dunia kerja global.
 

Manfaat Bagi Siswa Indonesia

 

Biaya Lebih Terjangkau & Lingkungan Aman


Dengan menempuh jalur junior college di Indonesia seperti JA College, siswa dapat merasakan pengalaman pendidikan internasional tanpa harus langsung ke luar negeri—mengurangi biaya akomodasi dan adaptasi budaya yang drastis.
 

Adaptasi Lebih Mudah ke Sistem Internasional


Karena kurikulum dan metode pembelajarannya disesuaikan dengan standar global, siswa jadi lebih siap ketika melanjutkan ke universitas luar negeri. Adaptasi terhadap gaya belajar, metode penilaian, dan sistem kelas menjadi lebih mulus.

Peluang Masuk Universitas Ternama


Dengan persiapan yang matang, siswa memiliki peluang lebih besar untuk diterima di universitas luar negeri kelas dunia. Program jalur persiapan di JA College menekankan strategi aplikasi, pemilihan jurusan/universitas, serta persiapan tes masuk. 

Siapa yang Cocok Memilih JA College?


Siswa yang memiliki cita-cita kuliah ke luar negeri, baik di Inggris, Australia, New Zealand, maupun negara lain dengan sistem pendidikan internasional, akan sangat diuntungkan dengan memilih jalur junior college seperti JA College.

Selain itu, siswa yang ingin memperkuat persiapan akademik dan bahasa Inggris sebelum memasuki universitas global dapat memanfaatkan program Foundation atau A Level di JA College.
Bagi orang tua dan siswa yang ingin opsi pendidikan internasional namun tetap berada di lingkungan Indonesia, JA College juga menjadi alternatif yang lebih aman dan terjangkau.
 

Proses Pendaftaran dan Elemen Persiapan

 

Persiapan Akademik


Siswa perlu mempersiapkan diri dengan nilai akademik yang baik, terutama pada mata pelajaran yang sesuai pilihan program (science, business, computer science). JA College menyediakan kurikulum yang mendukung kebutuhan tersebut.

Persiapan Bahasa Inggris & Tes Masuk


Kemampuan bahasa Inggris akademik menjadi sangat penting. Siswa perlu membiasakan diri pada writing essays, membaca jurnal, berdiskusi dalam bahasa Inggris, serta mengikuti persiapan untuk tes seperti IELTS. Sekolah persiapan seperti JA College menyediakan modul ini. 

Konseling Universitas dan Jurusan


Pertimbangan jurusan dan universitas tujuan harus dibuat sejak awal. JA College menyediakan layanan konseling yang membantu siswa memilih jalur studi, menyusun strategi aplikasi, hingga pembuatan personal statement.
 

Lingkungan Belajar dan Fasilitas


Fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, ruang teknologi dan kelas interaktif akan mendukung proses belajar siswa. JA College menekankan fasilitas dan sumber daya yang memadai.

Tantangan dan Pertimbangan


Meskipun JA College menawarkan banyak keunggulan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
  • Biaya: Meskipun lebih terjangkau dibandingkan langsung ke luar negeri, pendidikan internasional di Indonesia tetap membutuhkan investasi yang signifikan.
  • Adaptasi Kurikulum: Program internasional membutuhkan komitmen tinggi dari siswa dalam belajar dan adaptasi terhadap standar global.
  • Target Universitas: Siswa harus realistis dalam menentukan universitas dan jurusan yang akan dituju, serta mempersiapkan diri dengan baik agar dapat bersaing.
  • Persiapan Awal: Memulai sejak kelas 10-11 akan lebih ideal agar memiliki cukup waktu membangun portofolio, kemampuan bahasa, dan pengalaman.

Kesimpulan


Jakarta Academics College (JA College) hadir sebagai solusi pendidikan bagi siswa Indonesia yang berambisi untuk menembus dunia pendidikan internasional. Dengan kurikulum yang diakui global, lingkungan belajar yang mendukung, dan layanan persiapan universitas yang terarah, JA College menjadi pilihan tepat bagi mereka yang ingin mendapatkan pendidikan berkualitas dengan perspektif global tanpa harus langsung ke luar negeri.

Di tengah persaingan yang semakin ketat dalam dunia akademik dan karier, memilih jalur yang tepat sejak awal menjadi kunci kesuksesan. Dengan persiapan yang matang melalui institusi seperti JA College, masa depan akademik dan profesional para siswa dapat terbuka lebih luas dan lebih terencana.

Surat Terbuka untuk Guru & Orang Tua SDN Kacok 02: Mari Jaga Amanah Digital Anak Kita Oleh: Faris Dedi Setiawan

Faris Dedi Setiawan

Faris Dedi Setiawan Bersama Bapak Dr. Amril Muhammad SE.M.Pd Sekertaris Jendral Asosiasi Cerdas Istimewa Bakat Istimewa Nasional CIBI


Assalamu'alaykum wa barakatullahi wa barakatuh,

Kepada Bapak/Ibu Guru dan Para Wali Murid SDN Kacok 02 yang saya hormati,

Perkenalkan, saya Faris Dedi Setiawan. Sebagai seorang praktisi teknologi dan juga seorang putra daerah dari Ambarawa , saya merasa terpanggil untuk berbagi sedikit keprihatinan sekaligus solusi.

Di era ini, gadget (HP, tablet) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup anak-anak kita. Di satu sisi, ia adalah jendela ilmu. Di sisi lain, ia adalah pintu bahaya yang menganga lebar.

Anak-anak kita di usia Sekolah Dasar adalah "amanah" yang paling berharga. Menjaga mereka di dunia nyata sudah menjadi tugas kita. Kini, kita punya tugas tambahan: menjaga "amanah digital" mereka di dunia maya.

Tanggung jawab ini tidak bisa diemban oleh guru saja di sekolah, atau oleh orang tua saja di rumah. Ini adalah perjuangan bersama.

Sebagai sumbangsih pemikiran, izinkan saya berbagi 3 tips praktis non-teknis untuk kita (guru dan orang tua) dalam menjaga anak-anak kita:

1. Dampingi, Jangan Dilepas (Prinsip Pengawasan) 


Memberikan gadget kepada anak SD ibarat melepaskan mereka sendirian di pasar malam yang ramai. Jangan pernah biarkan mereka "main" sendirian di internet. Luangkan waktu 10-15 menit untuk duduk di samping mereka. Tanyakan, "Lagi lihat apa, Nak?", "Main game apa?". Pendampingan fisik adalah filter terbaik.

2. Sepakati Batas Waktu (Prinsip Disiplin) 


Bahaya terbesar di era ini adalah adiksi (kecanduan). Buat kesepakatan yang jelas. Misalnya, "Boleh main HP 1 jam setelah sholat Ashar" atau "HP hanya untuk hari Sabtu/Minggu". Yang terpenting, kita sebagai orang tua dan guru harus konsisten dan tegas (namun penuh kasih sayang) dalam menerapkan aturan ini.

3. Ajarkan "Rahasia" Digital (Prinsip Privasi) 


Anak-anak secara alami polos dan mudah percaya. Ajarkan mereka konsep "rahasia" di dunia digital. Beri tahu mereka bahwa:

Nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah (SDN Kacok 02), dan nomor HP adalah rahasia yang tidak boleh diberikan ke orang asing di game atau medsos.

Foto pribadi (terutama yang tidak pantas) tidak boleh dikirim ke siapa pun.

Jika ada orang asing yang mengajak bicara aneh, harus langsung lapor ke Ayah/Bunda atau Bapak/Ibu Guru.

Penutup: Ini Perjuangan Kita Bersama Bapak/Ibu Guru dan Wali Murid sekalian, Melindungi anak-anak kita adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan. Mari kita bekerja sama, saling mengingatkan, untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi generasi emas penerus kita di SDN Kacok 02.

Semoga ikhtiar kecil kita ini dicatat sebagai amal kebaikan.

Wassalamu'alaykum wa barakatullahi wa barakatuh.
.
Tentang Penulis:

Faris Dedi Setiawan adalah Pakar Keamanan Siber, Google Developer Expert , dan Founder dari Whitecyber. Beliau mendedikasikan keahliannya untuk khidmah (melayani) dunia pendidikan di Indonesia.

Pendidikan Era Digital: Antara Peluang, Tantangan, dan Masa Depan Sekolah di Indonesia

Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia — termasuk dunia pendidikan. Jika dahulu proses belajar mengajar identik dengan ruang kelas, papan tulis, dan buku pelajaran tebal, kini aktivitas belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Transformasi ini bukan hanya soal alat, melainkan juga soal cara berpikir, berinteraksi, dan menilai keberhasilan pendidikan.

Pendidikan Era Digital


Bagi Indonesia, yang memiliki wilayah luas dan keragaman sosial-budaya yang tinggi, digitalisasi pendidikan membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan besar. Pemerataan akses, kesiapan guru, dan ketersediaan infrastruktur menjadi kunci utama agar transformasi ini benar-benar membawa manfaat.

Pendidikan Berubah, Paradigma Pun Bergeser


Dulu, guru dianggap sebagai satu-satunya sumber ilmu. Namun di era internet, pengetahuan bisa diakses hanya dengan beberapa kali klik. Hal ini memaksa sistem pendidikan untuk bergeser dari model teacher-centered menjadi student-centered. Guru kini lebih berperan sebagai fasilitator, sementara siswa didorong untuk aktif mencari, memahami, dan mengolah informasi secara mandiri.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui penerapan Kurikulum Merdeka mencoba menjawab perubahan zaman ini. Kurikulum tersebut menekankan kebebasan belajar dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan proyek dan kontekstual, siswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif — keterampilan yang sangat dibutuhkan di abad ke-21.

Namun, seperti dilansir Media90.id dalam salah satu laporan pendidikannya, penerapan Kurikulum Merdeka juga memerlukan dukungan teknologi yang mumpuni. Banyak sekolah yang mulai mengintegrasikan platform digital ke dalam sistem pembelajaran mereka. Mulai dari penggunaan Learning Management System (LMS), aplikasi tugas daring, hingga pembelajaran berbasis video interaktif.

Teknologi sebagai Akselerator Pendidikan


Digitalisasi dalam pendidikan bukan sekadar tentang mengajar lewat layar komputer. Lebih dari itu, teknologi berperan sebagai akselerator untuk mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Dengan koneksi internet, siswa di daerah terpencil kini bisa mengakses materi pelajaran yang sama dengan siswa di kota besar.

Inovasi seperti kelas virtual, e-learning, dan smart classroom menjadi tren yang semakin meluas. Beberapa sekolah bahkan telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menilai hasil belajar siswa secara lebih objektif. AI juga bisa membantu guru menganalisis kesulitan belajar setiap individu, sehingga metode pengajaran bisa lebih personal dan efisien.

Menurut data yang dikutip dari Media90.id, sejumlah sekolah di provinsi seperti Jawa Barat, Yogyakarta, dan Lampung mulai menerapkan sistem pembelajaran berbasis data. Misalnya, sistem penilaian digital yang langsung merekap nilai dan perkembangan siswa dalam satu dasbor. Guru tidak perlu lagi menumpuk berlembar-lembar laporan, sementara orang tua bisa memantau kemajuan anak secara real time.

Tantangan: Dari Infrastruktur hingga Literasi Digital


Meski kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, digitalisasi pendidikan di Indonesia tidak berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah kesenjangan infrastruktur. Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet yang stabil, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Banyak guru di daerah yang masih bergantung pada metode konvensional karena keterbatasan sarana.

Selain itu, literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kemampuan menggunakan teknologi secara efektif dan aman belum merata, baik di kalangan siswa maupun pendidik. Masih banyak yang hanya memanfaatkan gawai untuk hiburan, bukan untuk belajar.

Dalam laporannya, Media90.id menyoroti pentingnya pelatihan literasi digital untuk guru dan siswa. Pelatihan semacam ini tidak hanya mengajarkan cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijak, menghindari informasi palsu, dan menjaga etika digital. Dengan demikian, digitalisasi pendidikan tidak hanya menciptakan “pengguna teknologi”, tetapi juga “pembelajar digital”.

Peran Guru di Tengah Arus Teknologi


Perubahan cepat akibat digitalisasi sering kali menimbulkan kekhawatiran bahwa peran guru akan tergantikan oleh teknologi. Namun faktanya, guru tetap menjadi elemen utama dalam sistem pendidikan. Mesin memang bisa menyediakan data, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan emosional dan nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa oleh seorang pendidik.

Sebagai contoh, dalam pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19, banyak guru yang justru semakin kreatif memanfaatkan media digital. Mereka membuat video pembelajaran, kelas interaktif, dan kuis daring agar siswa tidak bosan. Adaptasi cepat ini menunjukkan bahwa guru Indonesia memiliki daya juang tinggi untuk terus berkembang.

Kini, banyak guru yang secara sukarela mengikuti pelatihan daring dan webinar untuk memperdalam kemampuan teknologi pendidikan. Beberapa di antaranya bahkan membangun komunitas belajar online untuk saling berbagi pengalaman. Semangat inilah yang menjadi modal utama untuk membawa pendidikan Indonesia ke level yang lebih maju.

Munculnya Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat


Digitalisasi pendidikan juga melahirkan budaya belajar baru: belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang, waktu, atau usia. Istilah lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat kini semakin populer. Siapa pun bisa belajar apa saja, dari mana saja, dengan biaya yang lebih terjangkau.

Platform seperti Massive Open Online Course (MOOC), YouTube Edu, hingga aplikasi belajar interaktif menjadi sarana populer bagi siswa dan masyarakat umum. Fenomena ini secara tidak langsung menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tetapi kebutuhan setiap individu.

Salah satu artikel edukatif di Media90.id juga menyoroti bahwa peningkatan budaya belajar mandiri menjadi modal kuat untuk membentuk generasi kreatif. Di tengah dunia kerja yang terus berubah, kemampuan beradaptasi dan terus belajar akan menentukan keberhasilan seseorang di masa depan.

Sinergi Pemerintah, Sekolah, dan Masyarakat


Transformasi pendidikan digital tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Pemerintah perlu memastikan pemerataan akses teknologi dan internet, sekolah harus berinovasi dalam metode pengajaran, sementara masyarakat berperan mendukung ekosistem belajar yang sehat.

Program seperti Merdeka Belajar dan Sekolah Penggerak menjadi contoh nyata komitmen pemerintah dalam mendorong perubahan positif. Namun keberhasilan program tersebut bergantung pada kolaborasi di lapangan. Sekolah harus berani mencoba hal baru, guru perlu terus belajar, dan orang tua diharapkan aktif mendampingi anak dalam proses pembelajaran digital.

Selain itu, sektor swasta juga bisa berperan besar melalui dukungan perangkat, pelatihan, dan penyediaan konten edukatif. Banyak perusahaan teknologi kini mulai bermitra dengan sekolah untuk memperkenalkan literasi digital sejak dini.

Menuju Pendidikan yang Inklusif dan Adaptif


Pendidikan masa depan adalah pendidikan yang inklusif — terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau geografis. Teknologi memungkinkan hal itu terjadi. Siswa di pedalaman Papua, pesisir Sumatera, hingga perkotaan Jakarta bisa belajar dari sumber yang sama asalkan memiliki akses internet yang memadai.

Namun inklusivitas juga harus diiringi dengan adaptivitas. Dunia kerja terus berubah, dan sekolah perlu menyesuaikan kurikulum agar relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan digital, dan pembelajaran berbasis proyek menjadi langkah strategis yang patut diperluas.

Seperti disampaikan dalam laporan analisis pendidikan oleh Media90.id, masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk beradaptasi. “Teknologi hanyalah alat, keberhasilan pendidikan tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya,” tulis laporan tersebut.

Penutup: Menyiapkan Generasi Digital Indonesia


Transformasi digital dalam pendidikan bukan lagi wacana, tetapi kenyataan yang harus dihadapi. Sekolah-sekolah yang mampu beradaptasi akan melahirkan generasi baru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, kreatif, dan melek teknologi.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara dengan ekosistem pendidikan digital yang kuat. Dengan kolaborasi lintas sektor, peningkatan literasi digital, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, visi “Pendidikan Merdeka untuk Semua” bukan hal yang mustahil tercapai.

Dan seperti ditegaskan dalam berbagai liputan edukatif di Media90.id, masa depan pendidikan bukan sekadar soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling siap untuk terus belajar dan beradaptasi.

Pengertian Geopolitik Menurut Ahli

Kata geopolitik berasal dari kata geo dan politik.“Geo” berarti bumi dan “Politik” berasal dari bahasa Yunani politeia, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri (negara) dan teia yang berarti urusan. Sementara dalam bahasa Inggris, politics adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu. 

Pengertian Geopolitik Menurut Ahli

Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki.

Pengertian Geopolitik Menurut Ahli

Sedangkan menurut para ahli, Geopolitik adalah : 

Menurut Rudolf Kjellén, seorang ilmuwan politik Swedia, pada awal abad ke-20 Geopolitik adalah seni dan praktek penggunaan kekuasaan politik atas suatu wilayah tertentu.Secara tradisional, istilah ini diterapkan terutama terhadap dampak geografi pada politik, tetapi penggunaannya telah berkembang selama abad ke abad yang mencakup konotasi yang lebih luas. 

Menurut Hagget, Geografi Politik merupakan cabang geografi manusia yang bidang kajiannya adalah aspek keruangan pemerintahan atau kenegaraan yang meliputi hubungan regional dan internasional, pemerintahan atau kenegaraan dipermukaan bumi. Dalam geografi politik,lingkungan geografi dijadikan sebagain dasar perkembangan dan hubungan kenegaraan. Bidang kajian geografi politik relatif luas, seperti aspek keruangan, aspek politik, aspek hubungan regional, dan internasional.

Frederich Ratzel (1844-1904) berpendapat bahwa negara itu seperti organisme yang hidup. Negara identik dengan ruang yang ditempati oleh sekelompok masyarakat (bangsa). Pertumbuhan negara mirip dengan pertumbuhan organisme yang memerlukan ruang hidup (lebensraum) yang cukup agar dapat tumbuh dengan subur. Makin luas ruang hidup maka negara akan semakin bertahan, kuat, dan maju.

Karl Haushofer (1896-1946) melanjutkan dua pandangan sebelumnya. Jika jumlah penduduk suatu wilayah negara semakin banyak sehingga tidak sebanding lagi dengan luas wilayah, maka negara tersebut harus berupaya memperluas wilayahnya sebagai ruang hidup bagi warga negara. 

Halford Mackinder (1861-1947) mempunyai konsepsi geopolitik yang lebih strategik, yaitu dengan penguasaan daerah-daerah ‘jantug’ dunia,sehingga pendapatnya dikenal dengan teori Daerah Jantung.

Alfred Thayer Mahan (1840-1914) mengembangkan lebih lanjut konsepsi geopolitik dengan memperhatikan perlunya memanfaatkan serta mempertahankan sumber daya laut, termauk akses ke laut. Muncul konsep Wawasan Bahari atau konsep kekuatan di laut. Barang siapa menguasai lautan akan menguasai kekayaan dunia. 

Guilio Douhet (1869-1930) dan William Mitchel (1878-1939) mempunyai pendapat lain dibandingkan dengan para pendahulunya. Keduanya melihat kekuatan dirgantara lebih berperan dalam memenangkan peperangan melawan musuh. Untuk itu mereka berkesimpulan bahwa membangun armada atau angkutan udara lebih menguntungkan sebab angkatan udara memungkinkan beroperasi sendiri tanpa dibantu angkatan lain. 

Geopolitik Indonesia

Secara umum pengertian geopolitik Indonesia adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri, lingkungan, yang berwujud Negara kepulauan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Ajaran Wawasan Nasional indonesia dikembangkan berdasarkan teori wawasan nasional secara universal. Wawasan tersebut dibentuk dan dijiwai oleh Paham Kekuasaan bangsa Indonesia dan Geopolitik Indonesia. 

Paham Kekuasaan bangsa Indonesia 

Menganut paham tentang “perang dan damai” yaitu : “Bangsa Indonesia cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatannya”. Artinya bahwa hidup di antara sesama warga bangsa dan bersama bangsa lain di dunia merupakan kondisi yang terus menerus perlu diupayakan. 

Sedangkan penggunaan kekuatan nasional dalam wujud perang hanyalah digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan, martabat bangsa dan integritas nasional, serta sedapat mungkin diusahakan agar wilayah nasional tidak menjadi ajang perang.

Konsekuensinya, bangsa Indonesia harus merencanakan, mempersiapkan, dan mendayagunakan sumber daya nasional secara tepat dan terus menerus sesuai dengan perkembangan zaman. 

Paham Geopolitik Indonesia 

Pemahaman tentang negara Indonesia menganut paham negara kepulauan, yaitu paham yang dikembangkan dari asas archipelago yang memang berbeda dengan pemahaman archipelago di negara-negara Barat pada umumnya. 

Menurut paham Barat, laut berperan sebagai ‘pemisah” pulau. Sedangkan menurut paham Indonesia laut adalah “penghubung” sehingga wilayah negara menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai “Tanah Air” dan disebut “Negara Kepulauan”.


Wasantara sebagai Wawasan Pertahanan dan Keamanan Negara

Wawasan Nusantara (Wasantara) adalah pandangan geopolitik Indonesia dalam mengartikan tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara

Mengingat bentuk dan letak geografis Indonesia yang merupakan suatu wilayah lautan dengan pulau-pulau di dalamnya dan mempunyai letak equatorial beserta segala sifat dan corak khasnya, maka implementasi nyata dari Wawasan Nusantara yang menjadi kepentingan-kepentingan pertahanan keamanan negara harus ditegakkan.

Wasantara sebagai Wawasan Pertahanan dan Keamanan Negara


Wasantara sebagai Wawasan Pertahanan dan Keamanan Negara

Realisasi penghayatan dan pengisian Wasantara (Wawasan Nusantara) di satu pihak menjamin keutuhan wilayah nasional dan melindungi sumber-sumber kekayaan alam beserta penyelarasannya, sedangkan di lain pihak dapat menunjukkan kedaulatan negara Republik Indonesia

Untuk dapat memenuhi tuntutan itu dalam perkembangan dunia, maka seluruh potensi pertahanan keamanan negara haruslah sedini mungkin ditata dan diatur menjadi suatu kekuatan yang utuh dan menyeluruh. Kesatuan Pertahanan dan Keamanan negara mengandung arti bahwa ancaman terhadap sebagian wilayah manapun pada hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara.

Dalam pasal 30 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, secara garis besar berisikan segala hal yang berkaitan dengan upaya pertahanan dan keamanan negara Indonesia. Dalam pasal 30 ayat (1), misalnya. Pasal tersebut menjelaskan bahwa tiap warga negara Indonesia berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. TNI dan Polri merupakan unsur utama dalam usaha pertahanan dan keamanan rakyat. Hal tersebut tertulis dalam Pasal 30 ayat (2) UUD 1945. 

Berikut isi Pasal 30 ayat (2): "Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung." 

Makna Pasal 30 ayat (2) UUD 1945 adalah pertahanan dan keamanan negara Indonesia dijalankan menggunakan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau yang dikenal Sishankamrata. Sistem ini dijalankan dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia) sebagai alat pertahanan, dan Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia) sebagai alat keamanan. 

Dengan demikian, meskipun TNI berperan sebagai alat pertahanan dan Polri sebagai alat keamanan, Sishankamrata turut melibatkan rakyat sebagai komponen cadangan dan pendukung. Sebab, tugas pokok pertahanan dan keamanan negara Indonesia tetap menjadi tanggung jawab TNI dan Polri. 


Wasantara sebagai Wawasan Pertahanan dan Keamanan Negara

Tentang Kami

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kacok 02 terletak 15 km utara kota Pamekasan tepatnya di Dusun Lot Polot, Desa Kacok, kecamatan Palenga'an, Kabupaten Pamekasan Madura - Jawa Timur. Meski layanan internet yang hanya mengandalkan jaringan operator seluler dengan segala keterbatasannya, bukan merupakan kendala untuk memperkenalkan SDN Kacok 02 Palenga'an - Pamekasan serta turut aktif di dunia IT.

Populer

Kategori

Artikel Baru

Blogroll

    Lokasi Sekolah

    Seedbacklink