Sekilas Info
Loading...

Pembelajaran

Info Pendidikan

Galeri Foto

Recent Post

14 Jan 2016
Implementasi Kurikulum 2013 di Dunia Pendidikan

Implementasi Kurikulum 2013 di Dunia Pendidikan

Implementasi Kurikulum 2013 di Dunia Pendidikan
Oleh: Riqi Astuti
Pendidikan Akuntansi - Universitas Negeri Yogyakarta

Implementasi Kurikulum 2013 di Dunia Pendidikan


Sejak tahun 1945 kurikulum pendidikan di Indonesia mengalami perubahan berkali-kali. Dari 1947 kurikulum rencana pelajaran yang dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai, 1964 Rencana Pendidikan Sekolah Dasar, 1968 Kurikulum Sekolah Dasar, 1973 kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), 1975 Kurikulum Sekolah Dasar, 1984 Kurikulum 1984, 1994 Kurikulum 1994, 1997 revisi Kurikulum 1994, 2004 rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sampai 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan saat ini akan diperbaharui menjadi kurikulum 2013.

Perubahan yang dilakukan Kemdikbud dari tahun ke tahun selalu berlandaskan perubahan konseptual saja. Secara praktis, kebiasaan lama tidak pernah berubah sesuai wacana kurikulum baru. Hal itu menyebabkan kurikulum pendidikan di Indonesia belum berjalan baik.
Lahirnya kurikulum 2013 dilandasi berbagai fenomena di masyarakat. Diantaranya, kemajuan teknologi informasi, masalah globalisasi, merosotnya moral di kalangan pelajar seperti perkelahian pelajar, narkoba, kecurangan dalam ujian. Presepsi masyarakat menganggap pendidikan terlalu menitikberatkan aspek kognitif. Beban siswa dalam menerima pelajaran pun terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran. selain itu, kurangnya muatan pendidikan karakter siswa juga menjadi faktor utama munculnya kurikulum 2013.

Pencanangan diterapkannya kurikulum 2013 masih memiliki banyak kekurangan. Perubahan kurikulum 2013 tidak didasarkan evaluasi kurikulum 2006 (KTSP). Penerapan kurikulum juga belum kontekstual sehingga masih terjadi paradoks antara world knowladge dengan school knowladge. Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013 belum memperhitungkan kesiapan, kapasitas dan kompetensi guru. Selain itu kurikulum yang diterapkan cenderung membuat guru menjadi objek pembelajaran. Kegagalan sosialisasi kurikulum sebelumnya membuat sebagian praktisi pendidikan belum mencapai hasil maksimal. Realitanya, kurikulum belum sempat ditelaah sudah berganti kurikulum baru. Pemangku kepentingan hanya sibuk ‘mengotak-atik’ aspek dokumen tertulis, bukan aspek urgent yang dipelajari guru maupun siswa. Hal tersebut membuat kerancuan tersendiri penggunaan kurikulum khususnya para siswa.

Untuk mengatasi kekurangan penerapan kurikulum baru perlu adanya sinergi antara pemerintah, guru dan peserta didik. Kurikulum nasional di Indonesia seharusnya disesuaikan tujuan pendidikan nasional yang diatur secara proposional. Kurikulum harus relevan dengan keadaan zaman, karena sejatinya kurikulum diterapkan tidak boleh bias dengan fenomena di masyarakat. Tolok ukur kelulusan siswa juga tidak hanya ditentukan pemerintah. Guru seharusnya memiliki andil, karena guru lebih mengetahui kemampuan siswa dalam kompetensi baik sikap, kemampuan maupun pengetahuan. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi membuat kurikulum tidak sesuai dengan keadaan zaman. Pemerintah sebaiknya membuat timelate kurikulum, sehingga kurikulum tertata dalam perubahannya.

Guru sebagai ujung tombak dalam implementasi kurikulum 2013 dituntut menjadi pengajar yang mampu meramu komponen kurikulum 2013 secara cepat dan tepat yakni standar isi, proses, penilaian dan kompetensi lulusan. Sehingga mampu meningkatkan keseimbangan kompetensi siswa untuk menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan global.

Peserta didik juga harus menyadari bahwa pendidikan diperlukan untuk menjawab tantangan global. Siswa juga harus bertanggung jawab dalam menuntut ilmu untuk mencapai pendidikan karakter yang menjadi tujuan kurikulum 2013.

Sumber: http://www.edupost.id/
Acara Kegiatan Keagamaan SD Negeri Kacok 2 Palengaan Pamekasan

Acara Kegiatan Keagamaan SD Negeri Kacok 2 Palengaan Pamekasan

Pada peringatan hari-hari besar Agama seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, SD Negeri Kacok 2 Palengaan Pamekasan, ikut melibatkan segenap keluarga besar sekolah yaitu Guru, siswa dan wali murid. Kegiatan dilakukan pada jam sekolah dengan memberi kebebasan siswa untuk mengenakan busana muslim.

Kegiatan Keagamaan SD Negeri Kacok 2 Palengaan Pamekasan

8 Des 2015
Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru

Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru

Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru
Oleh: Zamhari
Alumnus Divisi Syiar
Komunitas Rohis SMK se-Jogja (Karoma Jogja)


Kurikulum dan Darurat Kepahlawanan Guru

Masih segar diingatan kita sosok bijak kaisar Jepang, ia adalah Kaisar Hirohito. Tahun 1945 Kaisar Hirohito kalah dalam perang melawan sekutu. Ketika negerinya hancur, ia hanya menanyakan satu pahlawan sebenarnya, yakni guru. “Berapa banyak guru masih kita punya?”

Cuplikan kejadian diatas, Kaisar Hirohito memberikan penjelasan bukan berarti ia menganggap murah nyawa prajurit. Namun, jalan satu-satunya bangkit dari keterpurukan hanya dengan jalan pendidikan.

Pendidikan merupakan kunci pembangunan sekaligus kunci majunya peradaban bangsa. Sejarah membuktikan, kebangkitan ekonomi Jepang lebih cepat dari perkiraan, bahkan Jepang mampu menjadi negara yang berani bersaing di bidang teknologi dengan Barat.

Bangsa Indonesia pun terus berusaha memperbaiki kurikulum pendidikan. Dari tahun ke tahun, tercatat sejak tahun 1945 Indonesia sudah mengalami 9 perubahan kurikulum nasional, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, KTSP 2006 dan terakhir kurikulum baru 2013. Setiap perubahan kurikulum tujuannya baik, karena kurikulum bersifat dinamis. Kurikulum harus mengadopsi sesuai kebutuhan zaman yang berlaku.

Menurut penjelasan Mendikbud, Kurikulum yang akan diberlakukan tahun 2013/2014 ini menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi. Kurikulum tersebut juga diharapkan dapat mengobati keprihatinan atas hilangnya akhlak mulia seperti menguatnya radikalisme. (Kompas, 26/11/12).

Kurikulum baru ini mengurangi mata pelajaran yang semula 12 menjadi 6 mata pelajaran. Untuk jenjang SD meliputi mata pelajaran agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, dan Jasmani/Kesehatan. Hal ini dimaksudkan agar siswa fokus terhadap kemampuan dasar dan tidak terbebani mata pelajaran yang banyak.

Hal ini harus kita sambut dengan baik, agar perubahan kurikulum benar-benar mampu menelurkan generasi-generasi bermutu. Namun perlu dicatat, sesempurna kurikulum apapun, kalau negeri ini mengalami darurat kepahlawanan guru, di lapangan hasilnya akan nihil.

Kurikulum yang rencananya di terapkan Maret 2013 tersebut harus mengikutsertakan tokoh dan pakar pendidikan. Pembekalan, diklat dan training guru sangat penting guna memperkenalkan tujuan dan metode pengajaran kurikulum.

Pemerintah bersama jajaran terkait seharusnya memberikan penghargaan lebih terhadap guru. Mengingat realitas guru tanpa masa depan membuat banyak pemuda tak berminat menjadi guru. Di dalam lagu wajib nasional 1980 “Hymne Guru”, guru adalah pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Meskipun dipuja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukan berarti pemerintah lantas menelantarkan nasib guru. Kita sangat prihatin atas kerja birokrasi yang terkesan lamban, sehingga menyebabkan gaji guru terlambat. Belum lagi, pungutan liar oknum birokrasi mengatasnamakan sertifikasi polio, pelatihan profesi guru, penelitian tindakan kelas.

Hari pahlawan hendaknya tak hanya berorientasi menghargai pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Namun, lebih penting lagi membahagiakan guru adalah prasyarat bangsa yang bahagia. Dengan bahagia, guru akan lebih bersemangat dan berusaha sekuat tenaga menjadi guru berkualitas. Sehingga cita-cita yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 bukan hal mustahil bagi negeri yang diwarisi berjuta sejarah kejayaan para leluhur, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Amin.

Sumber: http://www.edupost.id
25 Nov 2015
Peringatan Hari Guru Nasional 2015

Peringatan Hari Guru Nasional 2015

Hari ini Selasa 24 Nopember 2015 berlangsung puncak peringatan hari guru nasional (HGN) di Istora Senayan Jakarta yang diikuti oleh 12.500 Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah termasuk para Guru Garis Depan (GGD), guru sekolah satu atap dan asosiasi GTK seluruh Indonesia.

Peringatan Hari Guru Nasional 2015


Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2015 dihadiri juga Presiden Joko Widodo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

Anies Baswedan mengatakan Untuk tema HGN tahun ini adalah ‘Guru Mulia Karena Karya’.

"Hari ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan peringatan Peringatan Hari Guru Nasional 2015 yang berlangsung dari 23 hingga 24 November 2015," ujar Anies

Sebelumnya, Senin (21/11/2015) sebanyak 4000 guru mengikuti simposium GTK yang menjadi wadah para guru untuk saling belajar dan bertukar pikiran serta pengalaman, yang berlangsung di tempat ini juga.

Presiden Jokowi memberikan tanda penghormatan satya lencana pendidikan pada Peringatan Hari Guru Nasional 2015ini. Sebanyak 10 perwakilan guru yang berprestasi luar biasa dan berdedikasi mendapatkan satya lencana pendidikan dari Joko Widodo.

Anies juga memberikan penghargaan tali kasih terhadap 1335 GTK termasuk yang berdedikasi dan berprestasi. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada para peserta terbaik simposium.

Selain itu sebanyak 250 karya dari 3366 karya guru masuk dipresentasikan dan dibagikan bersama guru-guru lainnya dari seluruh Indonesia.

Menurut Anies, guru merupakan sosok yang memiliki tugas untuk menyiapkan masa depan bangsa. Mereka jugalah para pelukis masa depan negeri ini. Karena tugas guru ini, Anies menyarankan agar masyarakat Indonesia bisa mengapresiasi guru. Hal ini karena guru menjadi hulu bagi kemajuan bangsa Indonesia.



Peringatan Hari Guru Nasional 2015 - SD Negeri Kacok 2

10 Nov 2015
Pendidikan Bermutu Untuk Anak, Tanpa Kekerasan

Pendidikan Bermutu Untuk Anak, Tanpa Kekerasan

Pendidikan Bermutu Untuk Anak, Tanpa Kekerasan
Oleh: Andi Pujiono

Pendidikan Bermutu Untuk Anak, Tanpa Kekerasan


"Seorang anak adalah tamu yang berkunjung ke rumah, untuk dicintai dan dihormati" J.D. Salinger, novelis Amerika.

Seorang anak adalah permata hati dan penyejuk mata kedua orang tua. Kehadirannya disambut isak tangis, bahagia. Anak adalah pewaris generasi bangsa. Di tangan mereka tongkat estafet sejarah bangsa akan berlanjut. Di pundak mereka, tanggung jawab masa depan bangsa dipikul. Dan melalui pikiran mereka, kemajuan bangsa akan tercipta.

Namun, ironisnya nasib buruk sering membayangi anak – anak Indonesa. Perlakuan buruk acapkali tergambar jelas di mata kita. Di televisi, koran, majalah, radio, dan banyak media lain sering kali terdengar dan terlihat tindak kekerasan yang menimpa anak. Alih – alih mendapat pendidikan bermutu, mereka justru sering kali harus menerima kekerasan dari orang dewasa di lingkungan mereka.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemeneg PP & PA) pada akhir 2014 lalu mengeluarkan pernyataan mengenai maraknya tindak kekerasan terhadap anak yang terjadi di Indonesia. Dari data tersebut, diketahui 1 dari 4 anak di Indonesia mengalami tindak kekerasan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa selama tiga bulan pertama tahun 2014 telah terjadi peningkatan tindak kekerasan terhadap anak secara signifikan dibanding 2011. Dalam tahun 2011 tercatat 2.500 kasus tindak kekerasan terhadap anak dan di tahun 2013 terjadi 3.700 kasus. Memasuki tahun 2014, pada tiga bulan pertama, setiap harinya KPAI menerima 17 laporan kasus tindak kekerasan terhadap anak.

Pada kesempatan ini, penulis akan mengutip penyataan Dr. Seto Mulyadi. Dalam kata pengantar buku berjudul “Anakku Bahagia, Anakku Sukses” karya Mohammaed A. Khalfan, pemerhati anak yang akrab dipanggil Kak Seto ini menekankan perlunya pendekatan kasih sayang dari orang tua dalam pendidikan anak.

“Pendidikan tidak sekedar dilakukan melalui komando atau instruksi sepihak saja, tetapi juga melalui pendekatan dari hati ke hati yang penuh kasih sayang. Semua ini hanya bisa dilakukan melalui pendekatan yang efektif oleh ibu dan ayah kepada putra - putrinya di rumah,” demikian kata Kak Seto.

Dengan momentum hari anak nasional yang jatuh pada 23 Juli tahun ini, penulis berharap akan terbuka gerbang pendidikan anak berkualitas tanpa kekerasan. Semoga senyum ceria anak bangsa mampu menyejukkan kehidupan bangsa. Pemimpin besar masa depan bangsa ini akan dipersiapkan sejak saat ini. Anak – anak bangsa adalah calon pemimpin bangsa.

Sumber: http://www.edupost.id/

Back To Top